“Beto Cheren” Batu Jaran - Desa Genteng Kec Konang

Latest

Selasa, 16 Januari 2018

“Beto Cheren” Batu Jaran


Masyarakat desa pada umumnya sering percaya pada hal-hal diluar nalar manusia. Mulai dari hal mistis maupun kepercayaan yang berada di lingkungan masyarakat setempat. Terkadang hal tersebut menjadi suatu hal yang akan terus menjadi idealise masyarakat yang berkembang sesuai dengan adat istiadat yang berlaku di daerah setempat. Bahkan di zaman teknologi canggih saat ini pun masi banyak ditemui hal yang serupa. Bahkan sering kali ditemui benda yang menjadi bagian dari sejarah cerita di dalam msyarakat setempat. Hal-hal tersebut biasa disebut dengan kepercayaan atau mitos bagi suatu daerah.
Di salah satu desa di kecamatan Konang yakni desa Genteng, khususnya di dusun Ghubuken terdapat satu benda yang menjadi sejarah dari mulut ke mulut namun diyakini kebenarannya. Benda tersebut adalah “Beto Cheren” atau dalam bahasa Indonesia disebut Batu Kuda. Beto Cheren tersebut terletak di tengah-tengah sawah milik warga sekitar. Batu yang nampak tersebut pada mitosnya merupakan batu besar yang berbentuk kuda. Namun, secara tampak jelasnya ketika didatangi oleh beberapa mahasiswa KKN hanya menunjukkan sebagian batu yang banyak tertutupi oleh rerumputan sekitar. Menurut keterangan kepala dusun Ghubuken bapak Saturi, batu tersebut dulunya besar dan berbentuk kuda. Batu tersebut juga pada sejarah cerita yang disampaikan oleh kepala dusun tersebut adalah batu asli tempatnya disitu dan tidak bisa dipindahtempatkan. Karena pernah kejadian dimasa lalu berdasarkan cerita ke cerita, batu itu seringkali dipindahkan di tempat yang lain namun pada saatu esok harinya kembali lagi ke tempat asalnya.
Mitos yang beredar di kalangan masyarakat mengenai Beto Cheren yakni adalah ketika sebelum bercocok tanam masayarakat setempat harus memberikan sesajen di area dekat batu tersebut. Kepercayaan tersebut telah menjadi suatu hal yang di lakukan oleh masyarakat setempat. Karena menurut narasumber, ketika mereka memberikan sesajen hasil pertanian akan bagus. Sedangkan ketika masyarakat tidak memberikan sesajen hasil pertanian yang telah di tanam tidak akan menghasilkan hal yang bagus atau bahkan sampai gagal panen.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan saat berjalan menuju area Beto Cheren, menunjukkan suatu hal yang luar biasa dari biasanya. Itu terlihat dari hasil padi yang segera akan dipanen dan tumbuh subuh di daerah sekitar Beto Cheren. Tumbuh subur pada padi dengan kuning keemasan di bandingkan seperti hasil-hasil padi yang biasanya di tanam di tanah-tanah lain. Entah, pembaca akan mempercayai atau tidak akan dikembalikan pada diri masing-masing. Namun, artikel ini hanya memuat pengetahuan dan wawasan bagi masyarakat luas mengenai bentuk kepercayaan, sejarah, dan cerita yang ada di dusun Ghubuken, desa Genteng, kecamatan Konang. (Amalia)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar